KUASAKU TAK BISA MENGANGKAT KACAMATA
24 Mei 2005
Benang merah di sudut kamar
Ku pilih senyum mu sebagai benih-benih harapan di esok hari
Namun ikrar yang telah mengelabui lensa berbuah dilema
Bayang-bayang tipis yang ternyata sebuah tembok fana tak ku hiraukan
Bau amis kepedihan yang terasa menyengat hidung kehidupanku
Aku telah memesan tatapan lembut lengkap dengan tanda hitam di wajah mu
Hasil kemahiran Tuhan yang bisa ku nikmati
Bila tinta tak lagi mampu menggambarkan keindahan mu
Hatiku lah yang merasakannya
Saat ku sadari semuanya tak lagi berarti dan aku terpaksa harus pergi
Kenapa cermin nggan menapakkan bola-bola kristal dari sudut mata?
Hanya memperlihatkan rusa dan kancil yang bercengkrama tentang keangkuhan
Ada apa di seberang kebimbangan ini?
Bukankah itu mawar merekah yang kerap menggodaku untuk meloncati jurang?
Ah,... kuasaku tak mungkin mampu mengantarkan keinginan jiwa
Biarlah kubalas lambaian itu dari mulut goa tanpa cahaya
Kini ku hanya menunggu jarum jam berhenti berputar
Silahkan kau bawa kegetiran ini wahai angin....
Agar aku dapat bersembunyi dari riwayat hidup
Dan esok akan ku tunggu embun kala burung membawa warta akan kemunculan mentari
Tapi aku masih berharap embun itu jelmaan tatapan lembut yangtelah ku pesan
